1. Beranda
  2. Artikel
  3. Berita Kampus
  4. 17 Hari di Antartika, Peneliti UGM Berbagi Pengalaman

Kategori

17 Hari di Antartika, Peneliti UGM Berbagi Pengalaman

17 Hari di Antartika, Peneliti UGM Berbagi Pengalaman

Rating: 1 - out of 5stars
20 Januari 2017 0 Komentar
Penulis:

Peneliti UGM sekaligus Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Nugroho Imam Setiawan, Ph.D., sudah menyelesaikan separuh perjalanan dari ekspedisinya di Antartika. Sabtu (14/1) Nugroho menjadi satu-satunya perwakilan dari kawasan Asia Tenggara.

Dikutip dari laman ugm.ac.id. Nugroho bersama sejumlah peneliti lainnya tergabung dalam tim JARE 58 (Japan Antartic Research Expedition). Selain dirinya dan ada juga peneliti dari Jepang dan dua peneliti lain dari Mongolia dan Srilanka. Sejauh ini, dia sudah menyelesaikan separuh dari perjalanan ekspedisi, dan berkesempatan beristirahat di Kapal Shirase sebelum memulai perjalanan lebih lanjut.


Nugroho menceritakan, menemui berbagai pengalaman menarik selama melakukan fieldwork. Dia mengaku, tantangan di lokasi cukup berat, baik dari segi geologi, medan, iklim, dan lokasi basecamp. “Rehat satu hari di kapal Shirase kami gunakan untuk mandi, cuci pakaian, input data, menyiapkan peta kerja selanjutnya, dan kembali melihat hiruk-pikuk dunia,” papar Nugroho

Baca Juga : UGM Jadi Tuan Rumah Kontes Mobil Hemat Energi 2016

Nugroho memulai perjalanan menggunakan kapal ekspedisi Shirase pada akhir Desember 2016 menuju Antartika. Selama bulan Januari hingga Februari 2017 Nugroho mengungkapkan setiap hari mereka mengoleksi 10-20 kg sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 km. Selama ekspedisi, Nugroho melihat tidak ada tipe batuan lain di lokasi penelitian selain batuan metamorf (gneissik) dan granitoids (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit) Honeycomb structure ini sering dijumpai pada batuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.

Basecamp dibangun dengan 1 tenda besar untuk kegiatan bersama (makan dan bekerja), 7 tenda kecil untuk masing-masing peserta ekspedisi dan 2 tenda toilet. “Kalau beruntung dapat tempat datar dengan alas pasir kasar hasil dari gerusan angin pada batuan. Karena tidak ada pilihan lain biasanya dapat alas batu-batu runcing dengan kondisi miring. Baru satu hari alas tenda dan matras sudah robek,” ungkap Nugroho seperti dikutip dilaman ugm.ac.id

Baca Juga : UGM Duduki Peringkat Pertama Versi 4ICU

Pada musim panas kali ini, suhu udara bervariasi dari -5 derajat hingga 5 derajat celcius dengan kelembaban udara 40 hingga 60 %. Beberapa kali tim ekspedisi harus bekerja seharian dalam kondisi -2 derajat ditambah angin dingin dan hujan salju. Sementara itu, pada malam hari menjelang tidur di dalam tenda suhu juga masih -1 hingga 0 derajat. Untunglah mereka membawa sleeping bag hangat sebagai penjamin tidur tetap nyenyak.

“24 jam nonstop matahari menghajar kami dan membuat wajah menjadi belang kehitaman walaupun sudah pakai sun-blok spf 50++ setiap hari. Kelembaban yang rendah membuat kulit di tepi kuku mudah mengelupas dan perih. Tapi rasa lelah itu tidak sebanding dengan pengalaman, ilmu, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan,” urai peneliti UGM ini.

Seperti diketahui, Nugroho Imam Setiawan, terpilih mengikuti kegiatan penelitian masa depan planet bumi di Antartika yang diadakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). Menurut rencana, kegiatan riset tersebut akan dilaksanakan selama dua bulan, Januari-Februari 2017 mendatang. Jika cuaca mendukung para peneliti tersebut akan segera kembali ke lapangan untuk 15 hari selanjutnya.

Submit your review
1
2
3
4
5
Submit
     
Cancel

Create your own review

Loading...
linecolor

    






Artikel Terkait