Mahasiswa Universitas Terbaik

Novela Permata Sari
  
THE BEST STUDENT OF THE MONTH August 2018

Universitas Presiden
Novela-permata-sari
, 26 Nov 1997
Jurusan Humaniora/ Hubungan Internasional
Tahun Masuk 2015
[email protected]
081297277xxx


Short Bio (Personal Lifestyle)

Berikut ini adalah beberapa hal yang menggabarkan kepribadian saya.

  1. Pekerja keras
  2. Senang mencoba hal baru
  3. Senang public speaking dan presentasi
  4. Senang bertemu orang baru (extrovert) meski terkadang membutuhkan waktu sendiri untuk merefleksikan diri
  5. Detail-oriented
  6. Process-oriented
  7. Senang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan analisa dan hal-hal kritis
  8. Senang bekerja dalam tim
  9. Senang memberikan motivasi bagi orang di sekitar
  10. Senang memimpin dan mengkoordinasikan sebuah projek

Penjelasan lebih lanjut:

Kata yang paling tepat menggambarkan saya mungkin adalah pekerja keras. Saya selalu berusaha memaksimalkan semua kesempatan yang telah diberikan. Di imajinasi saya adalah, siapa tahu dengan berjuang sedikit lagi lebih keras, apa yang saya impikan dapat tercapai. Saya selalu tergerak mencoba hal-hal baru karena sejak kecil, keluarga terutama ibu saya sangat membebaskan saya dalam menentukan pilihan hidup saya dengan tetap mendukung. Dulu, saya lebih sering mengikuti perlombaan melukis, bercerita dalam bahasa Inggris (story telling) atau pidato, dan hingga satu hari saya tertarik untuk bernyanyi. Akhirnya kursus bernyanyi pun pernah saya ikuti, namun hanya untuk mengisi waktu luang saja. Saya juga sering bermain tenis meja bersama paman saya. Beliau juga yang mengajarkan saya dari awal teknik bermain tenis meja. Begitu banyak ragam kegiatan yang saya ikuti merefleksikan betapa saya sangat senang menggeluti hal baru. Sebelum masuk ke dunia perkuliahan, saya jarang mengikuti organisasi kepemimpinan dan kepemudaan. Saya hanya mengerjakan hal-hal yang memberi manfaat bagi diri, hingga satu hari saya sadar bahwa hidup akan jauh lebih bermakna saat kita bisa melakukan sesuatu demi kebaikan bersama. Tidak usah muluk-muluk, kita dapat memulainya dari hal yang sangat sederhana. Akhirnya, saya pun tergabung dalam Senat Mahasiswa, PUMUN, serta memberanikan diri untuk menjadi guru ekstrakurikuler do President Special Needs Center (PSNC) dan guru bahasa Mandarin di SMP Presiden. Memang padat kegiatan selama berkuliah, karena itu saya harus pandai-pandai mengatur waktu supaya kegiatan akademik di kelas tidak terganggu. Sangat disayangkan jika kita bisa aktif di luar kegiatan belajar mengajar, tapi justru tidak mampu menunjukkan kemampuan di akademik, yang notabene adalah tujuan utama saya merantau jauh-jauh dari Pulau Kalimantan ke Pulau Jawa. Selama berkuliah, saya juga sering berdiskusi dengan sekelompok teman yang memang senang membicarakan berbagai isu di tengah masyarakat. Kita berusaha melihat dari berbagai aspek secara holistik dan memikirkan kontribusi apa yang bisa kita berikan kelak. Saya selalu percaya ketika kita berusaha keras, kita juga akan memperoleh hasil yang memuaskan. Teman-teman di sekitar yang terus mendukung juga merupakan elemen kehidupan yang membuat hidup saya lebih bermakna karena dukungan mereka. Selain itu, tentunya tidak lupa terus memohon restu dari Tuhan yang Maha Esa karena semua yang saya peroleh hingga detik ini memang tidak lepas dari karya Tuhan yang luar biasa.

Organisasi/UKM

  1. Anggota Komisi Akademik Senat Mahasiswa (President University Student Council) 2016

  2. Wakil Ketua Senat Mahasiswa (President University Student Council) 2017

  3. Anggota Divisi Conference President University Model United Nations (PUMUN)
  4. Anggota dari President University Catholic Society (PuCatSo)

Prestasi selama perkuliahan

2018:

  1. Top 17 Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional 2018

2017:

  1. Awardee beasiswa dan program pelatihan XL Future Leaders Batch 6. XL Future Leaders adalah program Corporate Social Responsibility dari PT. XL Axiata untuk mendidik mahasiswa dalam hal pembangunan karakter, berpikir kritis dan inovatif.
  2. Juara ke-2 National Paper Competition, yang diadakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Tema kompetisi karya tulis ini adalah Maritim. Oleh karena itu, tim saya menulis karya tulis berjudul Upaya Mencapai Visi Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia: Potensi Kerjasama Indonesia dan India Di Kawasan Indo-Pasifik Seiring Munculnya China dengan The Belt and Road Initiative.
  3. Honorable Mention di Pelita Harapan International MUN, yang diadakan oleh Universitas Pelita Harapan. Konferensi ini dibahas dalam Special Political and Decolonization Committee (SPECPOL) dan saya merepresentasikan Delegasi Republik India. Topik yang dibahas adalah Man Made Famine.
  4. Juara ke-3 National Call for Paper, yang diadakan oleh Universitas Presiden. Judul karya tulis yang dibuat adalah “Foods of the ASEAN: An Idea of a Unified Gastrodiplomacy to Achieve ASEAN Integration and Regional Food Branding

Based on ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).”

  1. Juara ke-3 Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa, yang diadakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan di Bekasi. Karya tulis yang tim saya buat adalah ‘Pengamalan Nilai Pancasila Melalui Penegakan Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode 2014 – 2019.’
  2. Best Delegate of National Moestopo Model United Nations, yang diadakan oleh Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Topik yang dibahas dalam kompetisi konferensi tersebut adalah Countering and Preserving Citizens of Nations from Political and Religious based Terrorism di komite Social, Humanitarian, and Cultural Committee (SOCHUM). Saya berperan sebagai Delegasi Venezuela.
  3. Finalis lomba Ambassador 1Day Essay Competition, yang diadakan oleh Kedutaan Denmark di Indonesia. Judul essay yang dibuat adalah “Indonesia and Denmark Bilateral Cooperation on Wind Energy through ABG (Academic, Business, and Government) Strategy.”
  4. Finalis Siam Cement Group Leadership program oleh Siam Cement Group.
  5. Finalis Future Leaders Summit 2017.

2016:

  1. Best Delegate dan Best Position Paper di Jayabaya MUN, yang diadakan oleh Universitas Jayabaya. Topik yang dibahas adalah Encountering Terrorism and Religious Radicalism, The Concept of Human Security 21st Century in General Assembly Committee. Saya mewakili Delegasi Republik Indonesia.
  2. Official Delegation ke Nanyang Technological University MUN di NTU, Singapore. Topik yang dibahas adalah “Promoting Freedom of Speech and Press“ dan “Elimination of Racism, Racial Discrimination, Xenophobia, and Related Tolerance” sebagai Delegai Georgia.
  3. Co-Director di President Model United Nations dengan tema besar “Enhancing World’s Stability and International Security by Eradicating Global Threats”.

2015:

  1. Outstanding Delegate di Grand General Assembly, yang diadakan oleh Universitas Indonesia. Saya menjadi delegasi Papua New Guinea dalam pembahasan Children in Armed Conflict di komite SOCHUM.
  2. Honorable Mention di COP21 Paris 2015 Simulation, yang diadakan oleh Universitas Indonesia. Saya menjadi delegasi Angola dalam permasalahan Deforestation and Water Scarcity dalam komite UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Sekilas tentang pribadi

Saat memutuskan berkuliah di Universitas Presiden, saya tahu hal ini akan menjadi pengalaman hidup yang begitu menantang. Pertama, karena saya harus tinggal jauh dari keluarga (yang mana belum pernah saya lakukan sebelumnya). Kedua, perkuliahan dianggap sebagai stage terakhir sebelum masuk ke dunia kerja yang jauh lebih rumit. Ketiga, saya harus tinggal di tempat yang benar-benar asing bagi saya. Awalnya sangat berat untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan di perkuliahan. Saya tinggal di asrama Presiden, begitu juga dengan teman-teman lain. Menjadi anak rantau membuat saya tertantang untuk lebih aktif dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar karena di akhir pekan pun saya tidak balik ke rumah di saat teman-teman lain kembali pulang ke rumah masing-masing. Berangkat dari pengalaman itu lah, saya berkomitmen untuk menjadi mahasiswa aktif baik itu di organisasi maupun lomba-lomba.

Lomba pertama yang saya ikuti adalah COP 21 Paris 2015 Simulation di Universitas Indonesia, yaitu semacam simulasi konferensi PBB. Saya berlatih dengan teman-teman dari PUMUN Club, dan pertama kali mengenal apa itu MUN. Puji Tuhan, saya berhasil memperoleh penghargaan Honorable Mention. Pengalaman MUN pertama merupakan MUN yang paling berkesan karena saat itu Universitas Presiden mengirimkan banyak delegasi sehingga kita saling support satu sama lain. MUN pertama tersebut mendorong saya untuk ikut MUN-MUN lainnya. Selain aktif ikut MUN, saya juga menjadi pengurus PUMUN Club sehingga sering memimpin simulasi konferensi internal mahasiswa Universitas Presiden. Dari situ, saya belajar banyak dan memberanikan diri ikut simulasi konferensi internasional, yaitu Nanyang Technological University MUN. Setelah mengikuti beberapa tahap seleksi di universitas, akhirnya saya terpilih menjadi official delegation bersama tiga teman lainnya mewakili Universitas Presiden. Selain mengikuti MUN, saya juga berusaha mengikuti kompetisi lain yaitu karya tulis. Dukungan dari pihak kampus sangat mendorong untuk mengikuti perlombaan tingkat nasional tersebut. Bersama dengan tim, kami berdiskusi, brain storming, dan menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan secara terstruktur. Latihan menulis karya tulis melatih saya untuk berpikir secara kritis dan runtut. Biasanya kompetisi ini juga diikuti dengan tahap presentasi dan hal ini jelas membantu melatih public speaking dan kepercayaan diri. Semua lomba yang saya perlahan ikuti ternyata menjadi bekal bagi saya saat mengikuti Pemilihan Mahasiswa Berprestasi. Seleksii yang begitu ketat dari tingkat universitas, rayon, kopertis, final dan penilaian akhir. Tahun 2018 adalah kali pertama Universitas Presiden mengikuti Pemilihan Mahasiswa Berprestasi. Puji Tuhan, saya bisa mewakili kampus sampai ke tingkat nasional.  Jujur, untuk masuk ke 17 besar nasional sudah merupakan pencapaian yang luar biasa bagi diri saya sendiri, mengingat banyak sekali persiapan yang dilakukan untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh Menristekdikti ini. Lomba ini merupakan salah satu highlight di tahun 2018 dan pencapaian pribadi yang tidak akan terlupakan bagi saya.

Selain lomba, organisasi tempat saya berkembang adalah Senat Mahasiswa. PUSC adalah badan legislatif mahasiswa tingkat universitas, yang berfungsi untuk melakukan penelitian, mengumpulkan aspirasi mahasiswa, menjadi mediator antara mahasiswa dan pihak kampus, membuat undang-undang tentang organisasi kemahasiswaan, serta mengawasi kerja Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya sudah tergabung menjadi anggota PUSC sejak tahun pertama berkuliah, sebagai anggota Komisi I (Akademik). Setelah menjadi bagian dari PUSC selama satu tahun, saya merasa ada banyak hal yang masih harus diperbaiki, terutama sistem dan kejelasan landasan organisasi. Oleh karena itu, di tahun ke-2, saya berkomitmen untuk mengambil bagian dalam kepengurusan PUSC sebagai Vice Chairperson (Wakil Ketua). Bekerja dengan ketua saya, kami bersama memimpin 29 anggota yang berasal dari berbagai jurusan dan latar belakang yang berbeda. Menjadi bagian dari PUSC berarti siap untuk mengorbankan waktu sedemikian rupa demi menciptakan kemajuan signifikan bagi kampus dan mahasiswa. Pengalaman bekerja bersama dua tahun ini membuat saya belajar banyak tentang leadership skill dan kerjasama tim.

Tidak berhenti sampai di situ, karena seperti yang saya uraikan tadi, saya sangat senang mencoba hal baru. Oleh karena itu, saya juga sering mendaftar di kegiatan pelatihan kepemimpinan di luar kampus. Di sini, saya bertemu banyak teman-teman luar biasa dari berbagai kampus. Mereka telah menjadi orang-orang yang begitu menginspirasi dan memotivasi saya untuk berkembang dan berkontribusi untuk masyarakat. Ada yang sudah benar-benar memimpin sebuah organisasi kemasyarakatan demi pemberdayaan teman-teman difabel, ada yang sudah mempunyai bisnis yang begitu berkembang, dan ada pula yang sudah mewakili Indonesia di konferensi internasional. Di acara seperti ini, saya mempelajari banyak hal karena ada workshop berpikir kritis, cara memunculkan jiwa kepemimpinan, dan juga mempelajari kemampuan problem solving. Hal lain yang tidak kalah berharga adalah koneksi. Sesudah acara selesai, pasti akan dibuat sebuah group chat di sosial media yang mana di situ kita bisa saling bertukar informasi tentang acara selanjutnya atau bahkan kemungkinan koaborasi ke depannya.

Terinspirasi dari banyak orang selama kegiatan tersebut, saya memberanikan diri mengambil bagian menjadi guru ekstrakurikuler (mewarnai) di President Special Needs Center (PSNC). PSNC merupakan institusi pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di sini, saya membimbing lima sampai enam anak setiap pagi di akhir pekan. Melihat mereka senang dan antusias dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menjadi kesenangan tersendiri. Di tengah padatnya kegiatan dari Senin-Jumat, ada secerca keinginan emosional untuk bertemu anak-anak ini di akhir pekan dan melihat mereka dengan semangatnya di tengah keterbatasannya terus berusaha berlatih mengembangkan diri. Mulai dari pengalaman itu, saya mencoba lagi pengalaman mengajar lain, yaitu di tingkat SMP. Memang sedikit berbeda di antara keduanya karena umur dan kondisi anak yang dihadapi berbeda, namun keduanya mengajarkan tentang betapa besarnya jasa dan kesabaran seorang guru dalam menghadapi anak muridnya. Saya teringat dengan bagaimana guru sejak TK, SD, SMP, SMA, juga dosen di kampus selalu berusaha menjelaskan sekalipun murid-muridnya ribut di kelas. Pengalaman ini membuat saya belajar tentang makna dari sebuah kata sederhana, yaitu “respect”, bahwa kita harus selalu menghargai semua perjuangan seorang pendidik. Pendidik di sini tidak hanya berarti guru, tetapi juga orang tua di rumah yang sejak kecil merawat. Pengalaman tersebut sangat berharga bagi saya pribadi.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saat ini saya sedang magang di Tokopedia sebagai Business Development. Semoga ke depannya pelajaran yang saya dapatkan bisa saya aplikasikan untuk kebaikan orang lain di sekitar saya, terutama untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Itulah sekilas kegiatan yang sangat bermakna dan tak terlupakan bagi saya selama berkuliah di Universitas Presiden.

Tips
Intinya selama berkuliah, ada beberapa hal yang harus kita berani lakukan. Pertama, jadilah mahasiswa aktif yang tidak hanya mampu mempertahankan prestasi akademik di kelas, melainkan juga prestasi di luar kampus. Hal ini akan menjadi nilai jual pribadi kita saat nanti terjun ke dunia profesional. Saat ini kita hidup di era Revolusi Industri 4.0, di mana kemampuan yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan akademik yang text book. Yang dibutuhkan adalah kemampuan berpikir kritis, manajemen, berkoordinasi dengan orang lain, juga problem solving skill. Kemampuan ini hanya dapat diperoleh apabila kita berusaha mendorong potensi kita semaksimalnya selama berkuliah. Eksplor semua yang ada pada diri kita dengan mengikuti acara-acara yang menurut kita dapat bermanfaat bagi pengembangan diri. Bukan berarti kita sembarangan mengikuti semua acara sampai kita sendiri kewalahan, tapi kita harus tahu limit diri kita dan apa yang kita butuhkan.

Kedua, mulailah melakukan hal-hal yang juga bermanfaat bagi orang lain bukan hanya diri sendiri. Makna hidup akan terasa lebih indah berjuta kali lipat apabila kita membagikannya dengan orang lain. Kita tidak perlu melakukan hal-hal besar yang membutuhkan biaya dan tenaga besar. Kita dapat memulainya dengan hal yang terdekat dengan lingkungan kita. Kontribusi kecil dari kita mungkin mempunyai sejuta makna bagi lingkungan kita.

Ketiga, bertemanlah dengan sebanyak mungkin orang, eratkan koneksi dengan siapa saja tanpa pandang buluh. Saya memperoleh banyak sekali dukungan dari keluarga, teman-teman, dan dosen. Keluarga saya selalu memberi dukungan positif dalam mengikuti berbagai kegiatan, tidak membatasi dan membebaskan saya untuk memutuskan. Terutama bagi anak perantau seperti saya, haruslah menyempatkan diri untuk memberi kabar dan menelpon orang tua kita sebab hanya dengan memberi kabar dapat membuat mereka tenang.  Teman-teman juga hadir sebagai partner berdiskusi mulai dari masalah akademik, kampus, bahkan untuk secara emosional mendukung dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dosen yang selalu hadir untuk membimbing ketika mengikuti perlombaan dan mendorong untuk berani mencoba banyak hal baru. Semua pencapaian hanya mampu diperoleh ketika ada campur tangan dan dukungan dari mereka semua.

Tidak lupa juga, yang keempat, harus banyak berdoa dan bersyukur pada Tuhan yang Maha Esa. Saya percaya semua usaha yang sudah dilakukan secara sepenuh hati dengan tidak lupa menyerahkannya pada Tuhan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Terakhir, teruslah berusaha terus karena work hard will be paid off. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Apa yang kita perjuangkan pasti akan memperoleh hasil yang sesuai. Memang terkadang hasil tidak selalu sesuai dengan apa yang diinginkan, namun itu tidak berarti bahwa kita harus berhenti berjuang.

Ingat bahwa setiap orang mempunyai jalan suksesnya masing-masing. Kita tidak perlu merasa bahwa orang lain jauh lebih beruntung atau hebat. Kita hanya perlu menjadikan kesuksesan orang sebagai pembangkit semangat dan motivasi diri. Masing-masing orang mempunyai jalannya untuk meraih kesuksesannya. Berani melangkah ke depan dan jadikan masa perkuliahanmu menyenangkan!