1. Beranda
  2. Artikel
  3. Berita Kampus
  4. Isu Radikalisme dan Terorisme Masuk Kampus

Kategori

Isu Radikalisme dan Terorisme Masuk Kampus

Isu Radikalisme dan Terorisme Masuk Kampus

Rating: 1 - out of 5stars
15 Mei 2018 0 Komentar
Penulis:

Kampus memang menjadi tempat yang sangat ideal bagi pembentukan berbagai ideologi. Ketika memasuki dunia kampus, hampir pasti kamu akan disodori berbagai kegiatan di luar kegiatan akademik, baik itu bentuknya organisasi, UKM, maupun club-club dan kelompok-kelompok yang skalanya beragam, dari kecil hingga besar, dari tingkat jurusan, fakultas, hingga universitas.

Kejadian terror bom yang terjadi di beberapa tempat di Surabaya kemarin seolah-olah kembali membuka mata masyarakat Indonesia, apakah yang sedang terjadi saat ini? Tak sedikit juga yang mengaitkan kejadian terror bom dengan paham-paham radikalisme dan terorisme yang disinyalir dekat dengan dunia kampus.

BIN atau Badan Intelijen Negara bahkan memberikan angka 39% untuk mahasiswa Indonesia yang sudah terpapar radikalisme. Selain itu, ada 3 universitas yang mendapat perhatian khusus karena dicurigai menjadi basis penyebaran paham radikalisme. Pernyataan BIN ini diungkapkan oleh Kepala BIN, Budi Gunawan, di depan pengurus BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama  dari 272 kampus  se-Indonesia, di Semarang, pada hari Sabtu 28/4/2018.

Dari hasil riset yang dilakukan BIN di tahun 2017, ada 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA yang menyetujui tegaknya Negara Islam di Indonesia. Dari survei itu pula, didapat data 39% mahasiswa sudah terpapar paham radikal, dan karenanya perlu mendapat perhatian dari pemerintah.

Menurut Budi, mahasiswa sering dijadikan target penyebaran paham radikal oleh oknum-oknum tertentu. Maka dari itu, mahasiswa harus mampu mencegah pemahaman radikal masuk ke diri mereka sendiri. Benteng agama yang kokoh dan cinta kasih terhadap sesama haruslah terus dipupuk supaya tidak terjerumus lebih jauh ke pemahaman-pemahaman yang melenceng.

Wahid Institute dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pernah mengadakan riset tentang radikalisme yang kemudian hasil risetnya dirilis pada tahun 2016 lalu. Survei tersebut melibatkan 1.520 responden yang tersebar di 34 provinsi, dengan periode survei antara April hingga Mei 2016. Respondennya adalah umat Islam berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah.

Sebagian besar responden (70%), menyatakan menolak tindakan radikal. Namun, ada 0,4% responden yang mengaku pernah terlibat dalam kegiatan radikal dan 7,7% mau bertindak radikal kalau memungkinkan.

Berdasarkan hasil survei tersebut, pendidikan, ekonomi, dan tempat tinggal tidak memiliki korelasi dengan radikalisme.

Submit your review
1
2
3
4
5
Submit
     
Cancel

Create your own review

Average rating:  
 0 reviews
Loading...
linecolor

    






Artikel Terkait